Flash Fiction · Home · Thoughts

INFATUATION #1

Seharusnya hari Kamis itu tidak pernah ada. Malam itu,terlalu  banyak hal yang kusesalkan menjelma menjadi sebuah kesalahan. Semestinya tidak pernah terdengar kata kita, Aku dan kamu yang sejatinya tak pernah menahu. Kita dan sekelumit pikiran kita masing-masing, oh maaf, tidak pernah ada lagi kata kita. Aku dan sekelumit pikiranku yang dangkal justru membawamu terlalu dalam dan dalam, pergi dan jauh dari sebuah esensi “keakraban”. Tapi toh aku bahagia, hingga keegoisan ini terus menjalar…

***

Kalau saja waktu bisa diputar kembali, alih-alih aku akan menyimpan rapat mulutku dalam ransel hitam pekatku. Karna sepotong obrolan awal telah kukenali sebagai kerinduan.

Seharusnya kamu tahu dari awal peringatan itu “Jangan berkawan denganku!”, yang sebenarnya ingin kutuliskan lebar dan besar pada kaca, tempat dimana kamu lemparkan pandangan acuh di setiap dering telepon malam itu.

Aku memperhatikanmu. Ya, samar-samar. Aku hanya tidak tahu bagaimana mengatasi kebosananku dalam perjalanan. Sesekali ponselku bergetar, tak pernah ada deringan, satu pun tidak untuk menanyakan keberadaanku, kontras denganmu.

 Apapun itu. Setiap gerik waktu terasa singkat, seolah malam itu adalah takdir. Aku tak bisa mengubah perangai ramahku, aku tersenyum – selalu tersenyum, dan aku tak mengerti ternyata senyum ini awal kamu mulai membuka diri.

***

“Hari apa ini?”

“Senin.”

Seharusnya hari Kamis dan Senin tidak pernah ada!

Konstelasi rasaku memuncak malam ini, aku menyadari bagaimana mungkin ada suatu rasa yang begitu kental menyeruak di dadaku. Semua ini karena kamu. Bukan kamu yang aku salahkan, tapi malam itu..Kamis itu.

 Aku dan kamu terpaku dalam pengakuan yang samar. Sebenarnya saat itu kejujuran tak diperlukan. “Cukup aku dan kamu..” pikirku. Tetapi semesta terlalu lancang jika menyembunyikan keberadaannya, dia, cinta yang enggan kau dustakan.

“Aku berhenti sampai disini..”

Aku merasa risih dengan kondisi yang canggung ini. Aku enggan menjadi renggang antara kamu dan dirinya. Memang seharusnya aku pergi, bayangan hitam yang tak pernah diinginkan!

***

KEHILANGAN, mutlak yang aku rasakan. Senyap hari setelah semuanya berakhir.

Lalu sebenarnya apa yang aku rasakan? Cintakah?, ah, terlalu cetek..

“When I’m with you, I lose sight of reality – I dare say. I feel like reality only consists of you and I.”

Tapi aku tidak bisa berkata selantang hati ini. Biarlah aku dan kamu menyesapi momen-momen tak tersebutkan ini, perasaan tak bernama ini.” (-ForgottenSupernova-)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s