Flash Fiction · Home · Thoughts

Infatuation #2

d792b9e1ae6bda931f5763344f298f6c

Aku masih saja menjadi  seorang penguntit. Berkali-kali dalam satu jam aku mengetikkan namanya pada kolom search, bukan karna aku tidak dalam pekerjaan yang membuatku harus bergegas tetapi karena kerinduan ini berubah menjadi halaman tebal seperti sheet kerja yang harus segera aku tuntaskan.

Kicauannya sekedar tentang guyonan pekerjaan, meski aku berharap ada aku disana, di dalam candanya. (hanya sebuah harapan). Lambat laun aku memahaminya bukan lagi sebagai sebuah sketsa, namun bayangan yang tak bisa kusentuh. Seringkali aku bersyukur Tuhan menciptakan Bill Gates, Mark Zuckerberg,  Jack Dorsey. Karena mereka, setidaknya aku tahu dia baik-baik saja.

Aku tidak menghapus nomornya. Berkali-kali bila aku marah aku mengancam diriku sendiri akan menghapus nomornya dari daftar kontak di ponselku. Kemudian aku berpikir bagaimana aku bisa tahu jika ia kembali meneleponku? Aku ingin mengangkatnya tergesa-gesa, tak seperti dulu dimana aku mengabaikannya.

Sebenarnya, harapanku terberai berantakan seperti sekotak paper clip yang jatuh dan menyebar di atas meja kerja. Kupungutinya secara acak dan memasukannya kembali dalam satu kotak, agar rapi lalu kuberi label : rindu.

Sempat pembicaraan kami mengarah pada kematangan (seingatku itu juga harapan). Kami berandai, seandai-andainya andai. Semua karena aku datang yang terakhir. Sembilan puluh lima hari hingga batasnya hari, kami memutuskan untuk tak lagi saling menyapa.

***

Kudengar kamu akan segera menikah. Aku berbahagia untukmu.

Mengingatnya seperti mengaburkan kewajiban pada jam-jam kerja yang padat. Aku datang yang terakhir, dan secara sadar aku menyingkir. Tapi, Ia tak melarangku seperti pria pada biasanya. Aku tahu, ia hanya takut berdosa. Aku pun begitu.

Bagi kami adalah hal tabu jika pria membagi hati dengan dua wanita. Tuhan menciptakan Adam untuk Hawa, tidak untuk Santi, Susi, Leila ataupun Katy. Mungkin memang benar, Ia hanya untuk wanitanya dan kehadiranku dimaknai mereka sebagai cobaan kesetiaan.

***

Suara bising pada jam kantoran. Celotehan hingga sungutan. Aku memilih diam, menahan sepertiga harsratku untuk menimpali celotehan mereka. Kembali kolom-kolom excel, angka, dan laporan akhir bulan mendesakku untuk berhenti memikirkannya.

 Aku menyimpanmu dengan hati-hati. Di laci terkunci

***

Advertisements

4 thoughts on “Infatuation #2

  1. leeennnyyy … nice to know you … rysda rekomendasiin aku baca tulisaan2 km.. kereen dehhh tulisan km .. jago mengibaratkan sesuatu sampe aku jd ngerasa ada disitu.. hahhaa mulai ngoceh pagi2.. pengalaman yg disampaikan pun dapet bgt!! seru kalii yah klo km buat crita ttg pengalaman aku.. hahaha.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s