Flash Fiction · Home · Thoughts

Kopi Pahit

“Kopi ini terasa lebih pahit dari biasanya” keluhmu

Lalu kau mulai mengeluhkan mengapa lantai ruangan ini bewarna terlalu suram, jarak kursi kita yang terlalu jauh dan sudut meja yang terlampau lebar. Kau bahkan memintaku untuk mengulang obrolan kita; kata per kata. Secangkir kopi tak akan membuatmu meracau seperti ini bukan? Katamu : ini secangkir kegetiran.

***

Bukan karena aku mabuk ;  hanya saja aku kehilangan keberanian. Dua tahun aku belajar berbicara selancang malam ini; melanggar sumpah “kita selamanya teman”. Tetapi semuanya larut dalam kopi yang kuteguk, dimana binar senyummu menyamarkan diam nanarku. Kau sungguh mencintainya? . Ini terlalu pahit, terasa lebih pahit dari yang biasa.

***

“Aku sudah jatuh cinta terlalu dalam padanya..” ungkapku jelas; lalu kudekap punggungmu dari belakang, memberi tahu padamu bahwa aku sungguh ingin mendekapnya seperti itu.

Kau hanya samar tertawa; lalu kau kembali mengaduk kopimu dan mencibir kepahitannya. Aku tetap tak melepaskan pelukanku padamu; aku tak ingin kehilanganmu. Menahun aku belajar untuk tidak menginginkanmu; menceritakan mereka yang sejatinya hanya sebuah sketsa. Karena seperti janji kita “Kita selamanya teman..”

***

We are good liars.

 

Advertisements

One thought on “Kopi Pahit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s