Flash Fiction · Home · Thoughts

Dua Puluh Dua

Menginjak usia dua puluh dua, semakin aku membawa banyak tanya. Seperti, hidup itu kumpulan norma yang tertata. Jangan begini, jangan begitu. Semuanya serba berdinding, aku mulai terkotak dan merasa sesak.

Lalu pada biasanya, aku berhenti untuk mengamati. Menyelami hati tentang keinginan yang tak benar-benar kuinginkan, tentang ketakutan yang diam-diam kurencanakan. Aku menemui diriku pada tiap-tiap tempat, keramaian yang semakin mengasingkan dan kegaduhan yang semakin menggelisahkan. Musik berputar jelas, semua tertawa dan membual, apakah aku bahagia?

Aku hanya tertawa.

__

Di waktu yang lain, pada suara angin aku mengalah, diam dan bersetubuh dengan kesepian. Setidaknya langit masih bewarna cerah meski dihadapanku hanya ada tepian pantai tanpa arah. Pada koperku, kukemas kehampaan, bukankah semua perjalanan ini yang dulu hendak kusombongkan?

Langit tak ada beda, tak disini maupun di Jakarta. Keheningannya pun sama.

Aku berusaha menikmatinya.

__

Pada sekeliling kotak norma aku berlarian, hendak meninggalkan atau bertahan. Jika tawa tak sebenarnya bahagia, lalu apakah bahagia itu? Dua puluh dua dan tanya.

Aku masih mencari jawabnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s