Be Positive · Home · Thoughts

Killing Field : Perenungan Kembali Arti Sebuah Tragedi

Panasnya kota Phnom Penh, Kamboja tak memudarkan semangat kami untuk berkeliling  menggunakan transportasi utama di kota ini yaitu tuk-tuk. Sama seperti Siem Reap, kota sebelumnya yang kami kunjungi , mereka menawarkan 10 USD per orang untuk perjalanan menggunakan tuk-tuk seharian. Perjalanan menuju ladang pembantaian di Choeung Ek kurang lebih memakan waktu 40 menit, pemandangan disepanjang jalan begitu khas, anak-anak sekolah riuh memadati pinggiran jalan yang gersang dan masih terlihat orang asli Kamboja yang bersepeda sambil menggunakan caping sebagai pelindung kepalanya dari terik matahari.

“Keceriaan yang menghangatkan hati”

Sesampainya di Choeung Ek, kami disambut oleh seorang pria yang bergegas mengarahkan kami ke loket pembayaran. Sebelum tour keliling tempat ini dimulai, kami disuguhi dengan sebuah audio guide dan headset yang akan menemani kami dari satu titik ke titik peristiwa lainnya. Perjalanan kami mengenang tragedi berdarah ini pun dimulai, alunan musik dan narasi yang tersetel di rekaman ini seperti menyayat  hati. Tak ada candaan lagi yang terdengar diantara para wisatawan, semuanya tenggelam dalam perenungan.

Sejarah pembantaian ini bermula ketika Pol Pot, pemimpin dari rezim Komunis Khmer Merah menjanjikan kebebasan dari rezim  Lon Nol yang buruk dan korup pada tahun 1975. Hanya dalam beberapa hari saja setelah rezim Pol Pot memerintah, Phnom Penh menjadi kota mati. Kamboja berkabung ketika ada ribuan orang setiap harinya disiksa hingga mati. Dalam kurun waktu  4 tahun, rezim tersebut diperkirakan telah membantai sekitar 2 juta orang Kamboja terutama kaum intelektual dan para pedagang yang dikhawatirkan akan menghasut rakyat untuk perubahan. Selain Choeung Ek, terdapat juga ladang pembantaian lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Kamboja namun Choeung Ek adalah ladang pembantaian paling terkenal.

“Sisa tulang belulang dan pakaian dari para korban”
“Ribuan tengkorak korban pembantaian di dalam sebuah estalase”

Ribuan tengkorak manusia tersimpan rapi dalam estalase kaca. Kuburan masal hingga bekas pakaian para korban menjadi saksi bisu bahwa disinilah kekejaman manusia pernah bersarang. Keadilan seperti hal yang tidak pernah terdengar ataupun dituntutkan. Melalui wisata sejarah ini kami belajar tentang kesedihan masa lalu bahwa dahulu pernah ada hak-hak hidup manusia yang terenggut oleh kekejaman rezim sebuah pemerintahan. Semoga kelak kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi dan semoga pemimpin di masa depan dapat menjadi yang seperti kami harapkan. Ya, kami berharap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s