Flash Fiction · Home

Semesta Milik Gretta : Kota asing dan sebuah kenangan #1

cropped-girl-train-track-rain-umbrella-lonely-sad-emo-facebook-timeline-cover-photo-banner-for-fb

Ada sebuah stasiun kereta yang tak jauh dari apartemen kecil yang aku tinggali, tempat yang kemudian menjadi tujuanku sehari-hari untuk membunuh bosan. Nyatanya kota ini tak seramai Jakarta, bahkan aku jarang melihat orang berlalu-lalang. Mungkin saja karena ini sedang musim dingin, mereka lebih memilih menghabiskan waktu untuk sekedar menghangatkan kaki di dalam selimut atau bermalas-malasan di rumah. Entah kenapa, aku menikmati perjalanan pada musim dingin ini, aku memilih duduk pada kursi tepi stasiun tepat dibawah tulisan Caulfied sambil mengamati keramaian. Tak ada yang aku tunggu dan tak ada yang menungguku; aku memiliki semua waktu yang ada.

Aku berpikir hendak ke kota siang ini, sekedar menjumpai temanku yang sibuk bekerja di kedai kopi atau duduk pada kursi samping gereja sambil menikmati pertunjukan musik jalanan. Lamat-lamat kereta mulai membawaku menuju kota dan seperti biasa aku kembali hanyut dalam pikiranku sendiri. Aku mulai mengingat perjalanan yang sama menggunakan kereta, awal mula aku menggemari kata “berpergian”. Saat itu pemandangannya hanyalah sawah hijau yang terhampar luas, udara pagi sesekali masuk melalui celah jendela kaca kereta. Ada perasaan senang yang membuncah saat itu, perasaan gembira yang tak tertahan saat aku tau ada sesuatu yang sedang menungguku.

Lima belas tahun yang lalu, Ibu menungguku pada peron yang sama tiap kali aku melakukan perjalanan menjumpainya. Hal menyenangkan yang pernah kubayangkan saat aku berhenti mengamati keramaian dan menemui kebahagiaanku sendiri. Senyum lebar dan pelukan hangat, hal yang mungkin aku rindukan di kota asing ini. Tak hanya musim yang berubah menjadi dingin, seketika sekelilingku menjadi beku hingga sapaan ringan sudah jarang lagi terdengar. Dentang suara tanda kereta tlah tiba membuyarkan lamunanku, aku bergegas keluar dan merapatkan scarf pada leherku. Udara diluar membuatku menggigil, sembari berjalan menyusuri anak tangga aku berpikir tentang apa yang ingin aku tunggu dan apa yang akan menungguku.

“Gretta!” mendadak seseorang memanggil namaku dari kejauhan. Aku memutar badanku dan mencari asal suara tersebut, suara yang tak asing namun mendebarkan begitu aku mendengarnya. “Tolonglah, aku sedang tak siap untuk sebuah kejutan”

(bersambung…)

Flash Fiction · Home

Pada Labirin

8ff69125679f6f11f5dbc52e5ffa3597

Lalu begini, aku tak hendak membuatmu bingung sepagi ini. Hanya saja kita seperti bermain dalam sebuah labirin, berputar-putar pada arah yang mengarah pada ketiadaan. Seandainya kau tahu maksudku, dinding labirin ini begitu tinggi untuk kupanjat seorang diri dan bersamamu setapak demi setapak adalah pilihan yang kupunya. Aku menikmati setiap detik bersamamu, setiap langkah yang kita ambil bersama, dan terkadang meskipun salah, kita akan selalu tertawa. Puluhan putaran sudah, hingga kita mulai beretorika tentang perasaan yang kita sangsikan dan perbedaan yang tak pernah kita rencanakan.

Kemudian kita memilih berjalan berlawanan arah, kau ke kanan dan aku ke kiri. Labirin ini membuatku gila! Perjalanan yang harusnya tak ku keluhkan, sebuah pelajaran tentang mencari atau ditemukan. Entah siapa yang terlebih dahulu bertemu, kau pada mataku atau aku pada matamu. “Labirin ini terlalu sempit kurasa” kataku untuk mengatasi kecanggungan,  “Atau langkah kita yang terlalu lebar hingga kita kembali dipertemukan?” terdengar suara teduhmu mengawali percakapan. Mungkin saja, langkah kaki ini terlalu sukar kita sangkal, semua kembali pada irama yang semesta ajarkan : hidup bukan hanya tentang sebuah tujuan, tapi juga sebuah perjalanan (*)

Flash Fiction · Home

Aku Sedang Sibuk

5c9d4562135df10f425dc77cf4d3f3cb

Akhir-akhir ini aku sedang sibuk. Ah! tak hanya aku, semua orang pun sibuk. Yang sedang bekerja sibuk dengan tumpukan pekerjaan, yang pengangguran pun sibuk mencari pekerjaan atau seperti Ibuku, Ibu rumah tangga yang mengaku selalu sibuk membenahi tiap sudut rumah sambil mengurus sendiri anjing dan kucing karena anak-anaknya jarang dirumah. Lalu aku? Aku sibuk memandangi tumpukan buku-buku kuliah yang harus aku baca dan kemudian sibuk memikirkan bagaimana aku bisa menyelesaikannya, namun tak pernah mulai membacanya.

Aku tak pernah malas membaca, sungguh,  aku pun berjanji akan sering menulis namun beberapa bulan terakhir aku menjadi malas. Kemudian lembaran skripsiku hanya menjadi barang usang yang aku letakkan sembarangan. Kau tahu punya tekad saja tak cukup, aku harus punya waktu dan terlebih lagi aku harus punya otak!  Aku rasa aku tak punya otak sekarang ini atau mungkin saja aku punya tapi otakku sedang ngadat sehingga ia tak sanggup lagi bekerja.

Jarum jam menunjukan pukul tujuh. “Ini masih pagi!” Aku kembali menarik selimutku dan berbaring sedikit lebih lama. Kau kenal aku bukan? Aku sangat menyukai pagi dan aroma wangi teh hijau yang kuseduh tiap pagi, tapi untuk hari ini aku hanya ingin melewatkannya. Aku berjanji  akan bekerja di kantor seperlunya, aku berjanji akan membatasi mengecek email dan aku sudah membuat kesepakatan dengan pikiranku untuk tidak memikirkan apapun selain membaca buku-bukuku. Oh, kau mungkin berharap aku memikirkanmu, tapi maaf seperti kataku tadi aku sedang sibuk.

Pada buku pertama yang aku baca, kujumpai huruf-huruf namamu tiba-tiba tersusun secara acak. Dengan terburu-buru aku membalik lembarnya ke halaman lain; hanya saja aku tak mau pikiran tentangmu memunculkan kesibukan yang baru.  Kau sendiri pernah berujar kesibukan pekerjaan membuatmu tak sempat untuk sekedar meneleponku. Tentu, kita tak akan saling membebani bukan? Barangkali memang benar, sibuk menjadi sebuah alasan untuk kita saling mengabaikan. (*)

Flash Fiction · Home · Thoughts

FUTURE

bampw-black-and-white-bus-girl-sad-Favim.com-403582

I vaguely remembered talking to you once about the future- something that we both can’t touch. I can sense the bitterness covered our little room where I can see the city starred by lights. Probably, this is our very first fight after we’ve been together for two years. I have no idea why these things up and I was just jaded with the games at the drop of a hat. Suddenly, your happiness becomes dreary and you serve the doubt on my plate.

We are sitting against the clock. I can hear you breathe when you’re trying to catch my watery eyes. Your heavy voice reminds me about a man who had left a mother and his daughter. You stuttered with your guilt and said “I am leaving.” You left a hundred questions to ask but this is only the future that you can offer. (*)

Flash Fiction · Home · Thoughts

TANPA KACAMATA

vision-hack-see-clearly-without-your-glasses-contacts.w1456

Entah..

Aku hanya tak sanggup berpikir saat ini

Semua tertinggal; kacamataku-hasratku-arahku

Tiap hal nampak samar, hanya ada bulatan-bulatan cahaya disekelilingku, perpaduan warnanya begitu indah dalam gelap; warnanya warna berani katamu, seperti konstelasi bintang yang paling sering kau banggakan. Tapi maaf, hanya saja tanpa kacamata konstelasi bintangmu itu seperti tak berbentuk dan membingungkan. Lalu kau hanya tertawa dan berhenti sejenak, menatapku lalu berseloroh “Tanpa kacamata, akulah bola mata”. Senyumku mengembang.

Kemudian aku melayangkan pandanganku pada tiap sudut jalanan Sudirman. Benar katamu, kota ini begitu gaduh dan sudah seharusnya aku bersamamu mendekap kesunyian. Sunyimu menulikan, merumahkan perasaan riuh yang kupendam. Tetiba kau menyodorkan pena yang kau beli semalam, kau memintaku menuliskan “Aku, namamu dan persimpangan..”

Pada persimpangan aku menuliskan ikrar, akan kujumpai sunyimu pada jam malam yang sama. Karena kau gaduh yang teduh, dan aku, akan beristirahat sejenak di pundakmu, menatap jalanan yang runyam dan buram.

***

Flash Fiction · Home · Thoughts

Remember Me

“Kenapa kau memandangku seperti itu?”

“Aku ingin mengingatmu..” ungkapmu singkat.

Ini kali pertama aku memberanikan diri memandang balik mata seorang pria. Mata birunya lekat menatapku, menelanjangi setiap lekuk wajah dan kekikukanku. Kau membiarkanku berjalan sendirian dengan semua terkaan, kemudian menit-menit ini berubah menjadi siksaan. Diam menjelaskan pengertian, tentang hal yang barangkali tak perlu kita katakan.

Lalu kau membuka percakapan dengan nada menyeringai tertawa, mengusikku dengan ingatan bahwa sejatinya kita mempunyai sejumlah kenangan yang bisa kita ceritakan. Dengan semangat kita saling menimpali, seolah dua hari sama seperti dua dekade kita hidup bersama. Kau bercerita tentang pak polisi baik hati itu, tentang luka di kakiku dan lagu Russia yang kau nyanyikan saat menggendongku. Bukankah ini menyenangkan? serumu, Ya, tentu saja! . Tawamu membuncah.

Beberapa jam yang lalu, aku sesumbar berkata : aku tak ingin terlelap. Lalu kau berpura-pura untuk mengiyakan, mengajakku berjalan dari satu taman hingga ke lain taman. Kau menjelaskan lugas tentang sudut-sudut kota ini, tentang bahasa mereka yang sedikit banyak tak ku mengerti. Kemudian kau merendahkan suaramu ke wajahku, air mukamu berubah menjadi getir, kita mengerti tak ada yang tahu apa yang kelak terjadi di esok hari.

Mungkinkah kita bertemu lagi?

Kau mendaratkan ciuman manis di keningku, memelukku erat. Tak ada kata yang tertinggal di kota asing ini, kita memilih untuk menyimpannya, sekadar untuk disesalkan atau dilupakan.

Aku pergi. Aku harus pergi sekarang.

“Better by far you should forget and smile

Than that you should remember and be sad”

(Remember – Christina Rossetti)

Flash Fiction · Home · Thoughts

Dua Puluh Dua

Menginjak usia dua puluh dua, semakin aku membawa banyak tanya. Seperti, hidup itu kumpulan norma yang tertata. Jangan begini, jangan begitu. Semuanya serba berdinding, aku mulai terkotak dan merasa sesak.

Lalu pada biasanya, aku berhenti untuk mengamati. Menyelami hati tentang keinginan yang tak benar-benar kuinginkan, tentang ketakutan yang diam-diam kurencanakan. Aku menemui diriku pada tiap-tiap tempat, keramaian yang semakin mengasingkan dan kegaduhan yang semakin menggelisahkan. Musik berputar jelas, semua tertawa dan membual, apakah aku bahagia?

Aku hanya tertawa.

__

Di waktu yang lain, pada suara angin aku mengalah, diam dan bersetubuh dengan kesepian. Setidaknya langit masih bewarna cerah meski dihadapanku hanya ada tepian pantai tanpa arah. Pada koperku, kukemas kehampaan, bukankah semua perjalanan ini yang dulu hendak kusombongkan?

Langit tak ada beda, tak disini maupun di Jakarta. Keheningannya pun sama.

Aku berusaha menikmatinya.

__

Pada sekeliling kotak norma aku berlarian, hendak meninggalkan atau bertahan. Jika tawa tak sebenarnya bahagia, lalu apakah bahagia itu? Dua puluh dua dan tanya.

Aku masih mencari jawabnya.