Flash Fiction · Home

Pada Labirin

8ff69125679f6f11f5dbc52e5ffa3597

Lalu begini, aku tak hendak membuatmu bingung sepagi ini. Hanya saja kita seperti bermain dalam sebuah labirin, berputar-putar pada arah yang mengarah pada ketiadaan. Seandainya kau tahu maksudku, dinding labirin ini begitu tinggi untuk kupanjat seorang diri dan bersamamu setapak demi setapak adalah pilihan yang kupunya. Aku menikmati setiap detik bersamamu, setiap langkah yang kita ambil bersama, dan terkadang meskipun salah, kita akan selalu tertawa. Puluhan putaran sudah, hingga kita mulai beretorika tentang perasaan yang kita sangsikan dan perbedaan yang tak pernah kita rencanakan.

Kemudian kita memilih berjalan berlawanan arah, kau ke kanan dan aku ke kiri. Labirin ini membuatku gila! Perjalanan yang harusnya tak ku keluhkan, sebuah pelajaran tentang mencari atau ditemukan. Entah siapa yang terlebih dahulu bertemu, kau pada mataku atau aku pada matamu. “Labirin ini terlalu sempit kurasa” kataku untuk mengatasi kecanggungan,  “Atau langkah kita yang terlalu lebar hingga kita kembali dipertemukan?” terdengar suara teduhmu mengawali percakapan. Mungkin saja, langkah kaki ini terlalu sukar kita sangkal, semua kembali pada irama yang semesta ajarkan : hidup bukan hanya tentang sebuah tujuan, tapi juga sebuah perjalanan (*)

Flash Fiction · Home

Aku Sedang Sibuk

5c9d4562135df10f425dc77cf4d3f3cb

Akhir-akhir ini aku sedang sibuk. Ah! tak hanya aku, semua orang pun sibuk. Yang sedang bekerja sibuk dengan tumpukan pekerjaan, yang pengangguran pun sibuk mencari pekerjaan atau seperti Ibuku, Ibu rumah tangga yang mengaku selalu sibuk membenahi tiap sudut rumah sambil mengurus sendiri anjing dan kucing karena anak-anaknya jarang dirumah. Lalu aku? Aku sibuk memandangi tumpukan buku-buku kuliah yang harus aku baca dan kemudian sibuk memikirkan bagaimana aku bisa menyelesaikannya, namun tak pernah mulai membacanya.

Aku tak pernah malas membaca, sungguh,  aku pun berjanji akan sering menulis namun beberapa bulan terakhir aku menjadi malas. Kemudian lembaran skripsiku hanya menjadi barang usang yang aku letakkan sembarangan. Kau tahu punya tekad saja tak cukup, aku harus punya waktu dan terlebih lagi aku harus punya otak!  Aku rasa aku tak punya otak sekarang ini atau mungkin saja aku punya tapi otakku sedang ngadat sehingga ia tak sanggup lagi bekerja.

Jarum jam menunjukan pukul tujuh. “Ini masih pagi!” Aku kembali menarik selimutku dan berbaring sedikit lebih lama. Kau kenal aku bukan? Aku sangat menyukai pagi dan aroma wangi teh hijau yang kuseduh tiap pagi, tapi untuk hari ini aku hanya ingin melewatkannya. Aku berjanji  akan bekerja di kantor seperlunya, aku berjanji akan membatasi mengecek email dan aku sudah membuat kesepakatan dengan pikiranku untuk tidak memikirkan apapun selain membaca buku-bukuku. Oh, kau mungkin berharap aku memikirkanmu, tapi maaf seperti kataku tadi aku sedang sibuk.

Pada buku pertama yang aku baca, kujumpai huruf-huruf namamu tiba-tiba tersusun secara acak. Dengan terburu-buru aku membalik lembarnya ke halaman lain; hanya saja aku tak mau pikiran tentangmu memunculkan kesibukan yang baru.  Kau sendiri pernah berujar kesibukan pekerjaan membuatmu tak sempat untuk sekedar meneleponku. Tentu, kita tak akan saling membebani bukan? Barangkali memang benar, sibuk menjadi sebuah alasan untuk kita saling mengabaikan. (*)

Flash Fiction · Home · Thoughts

FUTURE

bampw-black-and-white-bus-girl-sad-Favim.com-403582

I vaguely remembered talking to you once about the future- something that we both can’t touch. I can sense the bitterness covered our little room where I can see the city starred by lights. Probably, this is our very first fight after we’ve been together for two years. I have no idea why these things up and I was just jaded with the games at the drop of a hat. Suddenly, your happiness becomes dreary and you serve the doubt on my plate.

We are sitting against the clock. I can hear you breathe when you’re trying to catch my watery eyes. Your heavy voice reminds me about a man who had left a mother and his daughter. You stuttered with your guilt and said “I am leaving.” You left a hundred questions to ask but this is only the future that you can offer. (*)

Flash Fiction · Home · Thoughts

TANPA KACAMATA

vision-hack-see-clearly-without-your-glasses-contacts.w1456

Entah..

Aku hanya tak sanggup berpikir saat ini

Semua tertinggal; kacamataku-hasratku-arahku

Tiap hal nampak samar, hanya ada bulatan-bulatan cahaya disekelilingku, perpaduan warnanya begitu indah dalam gelap; warnanya warna berani katamu, seperti konstelasi bintang yang paling sering kau banggakan. Tapi maaf, hanya saja tanpa kacamata konstelasi bintangmu itu seperti tak berbentuk dan membingungkan. Lalu kau hanya tertawa dan berhenti sejenak, menatapku lalu berseloroh “Tanpa kacamata, akulah bola mata”. Senyumku mengembang.

Kemudian aku melayangkan pandanganku pada tiap sudut jalanan Sudirman. Benar katamu, kota ini begitu gaduh dan sudah seharusnya aku bersamamu mendekap kesunyian. Sunyimu menulikan, merumahkan perasaan riuh yang kupendam. Tetiba kau menyodorkan pena yang kau beli semalam, kau memintaku menuliskan “Aku, namamu dan persimpangan..”

Pada persimpangan aku menuliskan ikrar, akan kujumpai sunyimu pada jam malam yang sama. Karena kau gaduh yang teduh, dan aku, akan beristirahat sejenak di pundakmu, menatap jalanan yang runyam dan buram.

***

Flash Fiction · Home · Thoughts

Remember Me

“Kenapa kau memandangku seperti itu?”

“Aku ingin mengingatmu..” ungkapmu singkat.

Ini kali pertama aku memberanikan diri memandang balik mata seorang pria. Mata birunya lekat menatapku, menelanjangi setiap lekuk wajah dan kekikukanku. Kau membiarkanku berjalan sendirian dengan semua terkaan, kemudian menit-menit ini berubah menjadi siksaan. Diam menjelaskan pengertian, tentang hal yang barangkali tak perlu kita katakan.

Lalu kau membuka percakapan dengan nada menyeringai tertawa, mengusikku dengan ingatan bahwa sejatinya kita mempunyai sejumlah kenangan yang bisa kita ceritakan. Dengan semangat kita saling menimpali, seolah dua hari sama seperti dua dekade kita hidup bersama. Kau bercerita tentang pak polisi baik hati itu, tentang luka di kakiku dan lagu Russia yang kau nyanyikan saat menggendongku. Bukankah ini menyenangkan? serumu, Ya, tentu saja! . Tawamu membuncah.

Beberapa jam yang lalu, aku sesumbar berkata : aku tak ingin terlelap. Lalu kau berpura-pura untuk mengiyakan, mengajakku berjalan dari satu taman hingga ke lain taman. Kau menjelaskan lugas tentang sudut-sudut kota ini, tentang bahasa mereka yang sedikit banyak tak ku mengerti. Kemudian kau merendahkan suaramu ke wajahku, air mukamu berubah menjadi getir, kita mengerti tak ada yang tahu apa yang kelak terjadi di esok hari.

Mungkinkah kita bertemu lagi?

Kau mendaratkan ciuman manis di keningku, memelukku erat. Tak ada kata yang tertinggal di kota asing ini, kita memilih untuk menyimpannya, sekadar untuk disesalkan atau dilupakan.

Aku pergi. Aku harus pergi sekarang.

“Better by far you should forget and smile

Than that you should remember and be sad”

(Remember – Christina Rossetti)

Flash Fiction · Home · Thoughts

Dua Puluh Dua

Menginjak usia dua puluh dua, semakin aku membawa banyak tanya. Seperti, hidup itu kumpulan norma yang tertata. Jangan begini, jangan begitu. Semuanya serba berdinding, aku mulai terkotak dan merasa sesak.

Lalu pada biasanya, aku berhenti untuk mengamati. Menyelami hati tentang keinginan yang tak benar-benar kuinginkan, tentang ketakutan yang diam-diam kurencanakan. Aku menemui diriku pada tiap-tiap tempat, keramaian yang semakin mengasingkan dan kegaduhan yang semakin menggelisahkan. Musik berputar jelas, semua tertawa dan membual, apakah aku bahagia?

Aku hanya tertawa.

__

Di waktu yang lain, pada suara angin aku mengalah, diam dan bersetubuh dengan kesepian. Setidaknya langit masih bewarna cerah meski dihadapanku hanya ada tepian pantai tanpa arah. Pada koperku, kukemas kehampaan, bukankah semua perjalanan ini yang dulu hendak kusombongkan?

Langit tak ada beda, tak disini maupun di Jakarta. Keheningannya pun sama.

Aku berusaha menikmatinya.

__

Pada sekeliling kotak norma aku berlarian, hendak meninggalkan atau bertahan. Jika tawa tak sebenarnya bahagia, lalu apakah bahagia itu? Dua puluh dua dan tanya.

Aku masih mencari jawabnya.

Flash Fiction · Home · Thoughts

Jatuh Cinta

Aku merasa begitu bodoh saat aku jatuh cinta. Begitu jugakah kamu? Ah, tapi dalam hal apapun kau selalu pintar mengontrol emosimu. Nada bicaramu tetap saja datar, tidak seriang intonasi suaraku. Seringkali aku lupa teori bahwa pria hidup dengan logika. Lalu apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini? Meletup-letup setiap kali bertemu denganmu.

Sebenarnya ini hanya pertemuan biasa, lalu aku sibuk membenahi garis bibirku karena goresan lipstick yang tidak pernah rapi, aku selalu khawatir tentang rambut, baju, sepatu,dan semuanya. Aku ingin terlihat cantik di depanmu, cukup hanya didepanmu saja. Tidakkah kau tau hal itu terkadang membuatku lelah? Bagaimana jika aku seorang berantakan yang ceroboh, masihkah ada pertemuan yang lain untukku?. Kembali aku bertanya-tanya, pertanyaan yang berputar di dalam batinku dan aku tak pernah menemukan jawabannya darimu.

Bahkan jatuh suka denganmu membuatku menjadi seorang aktris amatiran. Seringkali aku berpura-pura tertawa mendengar trend leluconmu dengan teman-temanmu. Aku hanya ingin tertawa bersamamu. Terkadang obrolan kita mulai membosankan, hening dengan gadget kita masing-masing atau terkadang obrolan kita seperti sebuah drama monolog, panjang lebar kau bercerita tanpa bertanya bagaimana denganku. Sepertinya, aku bukanlah hal menarik untuk kau tau.

Aku mulai mengeluhkan perasaan ini. Kenapa aku jatuh cinta padamu? Disaat aku tak mampu menjadi diriku saat bersamamu. Atau mungkin saja aku bisa menjadi gadis impianmu yang suka memakai rok dan berhenti berbicara bola. Aku mulai berbicara dengan semua topik yang kau pilihkan, hanya saja kau terlihat seperti ingin mendengar apa yang kau dengar. Jenak aku berpikir, begitukah cinta?

Aku memang begitu bodoh ketika aku jatuh cinta. Sangat buta untuk merasa bahwa kau sebenarnya memang tak pernah ada rasa. Lalu bagaimana dengan hari-hari kerasku kemarin? Lupakan saja..mungkin dengan cara ini si bodoh belajar bahwa jatuh cinta tak sebahagia yang dia kira.