Home · Poems · Thoughts

TAK KEMBALI

Pagi yang kosong- cerah yang gulita; dingin perlahan

menyelimuti luka

Daun tak pernah mengutuki angin karna tlah

memisahkannya dari dahan, namun tiap malam

kau serapahi ingatan

Rinduku penuh dan pada pagi selalu

terhampar jalan yang panjang

Aku buih napas yang tak akan kembali pada ragamu;

yang pernah menghidupkanmu dan

bernapas di dalammu

Aku senja yang kau tinggalkan, fajar yang kau ragukan

yang pernah ada diantara

pagi pucatmu.

 

Jakarta, April 2017

Home · Poems

Kata Kita

189834_308175465961661_1419334191_n

(Fy)

Diantara kita entah siapa yang lebih dulu mencintai kata

Aku selalu suka kata yang bekerja di kepalamu

Sementara engkau selalu salah menerjemahkan kata kerjaku

Berandailah..aku kata..dan engkau pun kata

Pada kalimat mana kita akan dipertemukan

Dalam kalimat itu, akankah kita bersebelahan?

Atau kita dipisahkan kata lainnya

Lalu pura-pura saling tak memiliki makna

 

(Ly)

Aku menjejalkan kata pada rentetan kalimatmu

Katamu berhimpitan dan aku

terdengar sumbang

Kita pernah berteka-teki

Seperti apakah kata yang gagal?

“Kata yang tak bisa bersisian” ucapmu “yang

berirama timpang”

Lalu aku menelan kembali kata-kataku

Berikrar diri bahwa tak akan ada lagi kata yang tertinggal

Karna seperti kata, barangkali aku tlah gagal. (*)

 

 

Home · Poems · Thoughts

TERBENAM

abram

***

(Fy)

Setelah gagal dengan gelas kelima ini
Ingin kubenamkan saja kepalaku dalam seember kopi
Aku tidak ingin tidur
Sebab terlalu takut mengulang mimpi

Seisi kamar sudah terlanjur penuh dengan nyanyian tentangmu
Sedangkan aku hanya bisa menatap langit dari jendela
Barangkali,
Jika kaca jendela ini kupecahkan
Dendang sialan ini bisa melambung ke udara
Mungkin terbawa angin sampai pintu depan rumahmu

Kau dengar ketukan mereka?
Ketukan perih yg memohon iba
Aku ingin melupakanmu
Tapi kamu begitu lekat
Semacam tahi lalat yg menumpuk di bilik jantungku

Kunyalakan lampu dan berkaca
Memeriksa sisa sisa jejakmu yang tertinggal pada wajahku
Kemudian kembali merasa kalah
Aku kembali ke tempat tidur
Tapi tidak untuk tidur

Diluar matahari terbit
Aku terbenam

***

October, 2016

Home · Poems · Thoughts

Petani atau Tentara

Digantungnya pasrah di samping pintu

Teras depan dihiasinya dengan kelam

Katanya ini trend yang akan datang

Untuk sekedar melucu atau bukan; ia persilahkan masuk keputusasaan

Duduklah ia dengan teman baru barang seminggu

Mengeluhkan harga pendidikan hingga harga bawang

Semua ngasal! Semua ngasal! ia menggerutu

Sstt! Si bontot lagi tidur; ia mengumpat pelan

Mana kotak jampi-jampi?

Temannya tak mengenal kata televisi

Ia bangga menyebutnya balok harapan;

yang isinya cuma orasi para penjual mimpi

Pilih petani atau tentara?

Ah, sama saja;

yang penting si bontot ndak nelangsa.

 

(Rumah Berdikari, Juni 2014)

~Tulisan ini saya buat semata-mata karena jengah dengan harapan yang digembar-gemborkan oleh para kandidat Presiden pada Pemilu Presiden RI 2014

Home · Poems · Thoughts

Pretend

Could you be honest to yourself?

No body want laugh;

Neither the blind nor the deaf,

I know it is tough,

 

Shown gruesome fake all the time;

Pretending smile but you are grumble,

Put your wound with a sour lime;

Chew up your last pie and said “Life is incredible!”,

 

Pain is awesome;

Cracks everyman muscle,

Tears became hidden;

The sadness was tickle,

 

The day when I remembered;

You were pretended,

Everything will be alright;

Your last breath with no one beside.

 

(Jakarta, June 2014)

Home · Poems · Thoughts

Still I Rise

You may write me down in history
With your bitter, twisted lies,
You may trod me in the very dirt
But still, like dust, I’ll rise.

Does my sassiness upset you?
Why are you beset with gloom?
‘Cause I walk like I’ve got oil wells
Pumping in my living room.

Just like moons and like suns,
With the certainty of tides,
Just like hopes springing high,
Still I’ll rise.

Did you want to see me broken?
Bowed head and lowered eyes?
Shoulders falling down like teardrops.
Weakened by my soulful cries.

Does my haughtiness offend you?
Don’t you take it awful hard
‘Cause I laugh like I’ve got gold mines
Diggin’ in my own back yard.

You may shoot me with your words,
You may cut me with your eyes,
You may kill me with your hatefulness,
But still, like air, I’ll rise.

Does my sexiness upset you?
Does it come as a surprise
That I dance like I’ve got diamonds
At the meeting of my thighs?

Out of the huts of history’s shame
I rise
Up from a past that’s rooted in pain
I rise
I’m a black ocean, leaping and wide,
Welling and swelling I bear in the tide.
Leaving behind nights of terror and fear
I rise
Into a daybreak that’s wondrously clear
I rise
Bringing the gifts that my ancestors gave,
I am the dream and the hope of the slave.
I rise
I rise
I rise.

 

Maya Angelou – 1978

Home · Poems · Thoughts

Kehilangan

Aku dan dia tak lagi sebuah koma, kini dia berakhir dengan sebuah titik dan aku menggantung dengan sebuah tanya;
Mengapa?

Aku dan dia tak lagi sebuah obrolan, kini dia berakhir dengan diam dan aku tergesa-gesa menyusun kata yg kelu;
Aku merindukanmu

Pada detik yg kusesalkan, menit yg kurindukan, dan jam yg kubuang,
Aku tlah kehilangan.