Home · Poems · Thoughts

TERBENAM

abram

***

(Fy)

Setelah gagal dengan gelas kelima ini
Ingin kubenamkan saja kepalaku dalam seember kopi
Aku tidak ingin tidur
Sebab terlalu takut mengulang mimpi

Seisi kamar sudah terlanjur penuh dengan nyanyian tentangmu
Sedangkan aku hanya bisa menatap langit dari jendela
Barangkali,
Jika kaca jendela ini kupecahkan
Dendang sialan ini bisa melambung ke udara
Mungkin terbawa angin sampai pintu depan rumahmu

Kau dengar ketukan mereka?
Ketukan perih yg memohon iba
Aku ingin melupakanmu
Tapi kamu begitu lekat
Semacam tahi lalat yg menumpuk di bilik jantungku

Kunyalakan lampu dan berkaca
Memeriksa sisa sisa jejakmu yang tertinggal pada wajahku
Kemudian kembali merasa kalah
Aku kembali ke tempat tidur
Tapi tidak untuk tidur

Diluar matahari terbit
Aku terbenam

***

October, 2016

Books & Movies · Home · Thoughts

I’ll Be Right There

18209505

This is my favorite part in Kyung-Sook Shin’s novel, I’ll Be Right There. Somehow, the narrative was reflecting my feelings toward something that I missed..

The future rushes in and all we can do is take our memories and move forward with them. Memory keeps only what it wants. Image from memories are sprinkled throughout our lives but that does not mean we must believe that our own or other people’s memories are of things that really happened. When someone stubbornly insists that they saw something with their own eyes. I take it as a statement mixed with wishful thinking. As they want to believe.

Yet as imperfect as memories are, whenever I am faced with one. I cannot help getting lost in thought. Especially when that memory reminds me of what it felt like to be always a step behind. Why was it so hard for me to open my eyes every morning, why was I so afraid to form a relationship with anyone, and why was I nevertheless able to break down my walls and find him?(*)

Flash Fiction · Home · Thoughts

FUTURE

bampw-black-and-white-bus-girl-sad-Favim.com-403582

I vaguely remembered talking to you once about the future- something that we both can’t touch. I can sense the bitterness covered our little room where I can see the city starred by lights. Probably, this is our very first fight after we’ve been together for two years. I have no idea why these things up and I was just jaded with the games at the drop of a hat. Suddenly, your happiness becomes dreary and you serve the doubt on my plate.

We are sitting against the clock. I can hear you breathe when you’re trying to catch my watery eyes. Your heavy voice reminds me about a man who had left a mother and his daughter. You stuttered with your guilt and said “I am leaving.” You left a hundred questions to ask but this is only the future that you can offer. (*)

Flash Fiction · Home · Thoughts

TANPA KACAMATA

vision-hack-see-clearly-without-your-glasses-contacts.w1456

Entah..

Aku hanya tak sanggup berpikir saat ini

Semua tertinggal; kacamataku-hasratku-arahku

Tiap hal nampak samar, hanya ada bulatan-bulatan cahaya disekelilingku, perpaduan warnanya begitu indah dalam gelap; warnanya warna berani katamu, seperti konstelasi bintang yang paling sering kau banggakan. Tapi maaf, hanya saja tanpa kacamata konstelasi bintangmu itu seperti tak berbentuk dan membingungkan. Lalu kau hanya tertawa dan berhenti sejenak, menatapku lalu berseloroh “Tanpa kacamata, akulah bola mata”. Senyumku mengembang.

Kemudian aku melayangkan pandanganku pada tiap sudut jalanan Sudirman. Benar katamu, kota ini begitu gaduh dan sudah seharusnya aku bersamamu mendekap kesunyian. Sunyimu menulikan, merumahkan perasaan riuh yang kupendam. Tetiba kau menyodorkan pena yang kau beli semalam, kau memintaku menuliskan “Aku, namamu dan persimpangan..”

Pada persimpangan aku menuliskan ikrar, akan kujumpai sunyimu pada jam malam yang sama. Karena kau gaduh yang teduh, dan aku, akan beristirahat sejenak di pundakmu, menatap jalanan yang runyam dan buram.

***

Books & Movies · Home · Thoughts

INSIDE OUT – Kebahagiaan Itu Butuh Upaya

pixar

Jika kita perhatikan dari alur ceritanya, Inside Out merupakan sebuah film yang sederhana. Film ini bercerita tentang perkembangan Riley dari bayi hingga usia 11 tahun, perpindahannya ke rumah dan sekolah yang baru dan bagaimana cara ia beradaptasi. Namun film ini tidak sesederhana yang kita pikirkan,  Docter mengemasnya dengan sangat jitu;  ia menambahkan 5 karakter yang tak lain adalah emosi dasar yang telah dimiliki Riley sejak lahir : Joy (Kebahagiaan), Sadness (Kesedihan), Fear (Ketakutan), Disgust (Perasaan Jijik), dan Anger (Ketakutan). Tentu saja semuanya berperan penting dalam kehidupan Riley, seperti dengan adanya Fear membuat Riley lebih berhati-hati dan waspada dan Disgust yang membuat Riley mengenali makanan apa yang ia sukai dan tidak ia sukai. Riley tumbuh dalam keluarga yang harmonis sehingga meskipun semua emosi dasarnya bekerja dengan baik, Joy tetaplah mendominasi. Peran Joy sebagai pembuat kebahagiaan bagi Riley terlihat sangat jelas ketika ia berusaha melakukan segala sesuatu agar Riley tetap berpikiran positif bahkan Joy tak mengijinkan Sadness mendekat ke dalam pusat kendali emosi. Sebagai bukti kuat, Joy membuat beberapa pulau kepribadian dalam diri Riley yang berisikan kenangan-kenangan indah dalam kehidupan Riley. Joy ingin Riley selalu bahagia, namun adakah yang salahkah dengan sikap Joy?

Semua orang ingin merasa bahagia dan terus memelihara pemikiran positif mereka apapun yang terjadi. Esensi dari berpikir positif yang selama ini kita kenal adalah menghalau perasaan-perasaan negatif dari dalam pikiran kita. Namun ada hal yang seringkali kita abaikan bahwa tak selalu ingatan yang dibawa oleh Sadness akan bermuara ke hal-hal yang negatif. Kesedihan mempunyai caranya sendiri untuk menguatkan dan kesedihan tak boleh diabaikan karena ia memiliki peran penting dalam emosi setiap orang.  Suara dari kesedihan mungkin terdengar satir dan sarat dengan kekalahan, pembuat kebahagiaan- Joy dalam otak kita pasti akan mencari seribu cara agar kita tidak didominasi olehnya. Lalu kita mulai menampilkan ingatan yang menyenangkan dan mulai terbesit keinginan untuk mengulangi kembali kejadian dalam ingatan tersebut, hal itulah yang dinamakan motivasi diri. Motivasi bisa kita didapatkan dari mana saja, dari olahraga yang kita senangi, makanan favorit kita dan bahkan motivasi bisa kita dapatkan dari sebuah kesedihan.

Kesedihan disini bukan memaksudkan sebuah depresi, karena depresi itu sendiri merupakan akumulasi kesedihan yang menimbulkan stress berkepanjangan. Kesedihan identik dengan air mata, perasaan abstrak karena berbagai sebab, lalu bagaimana kesedihan dapat memotivasi kita? Ahli Biokimia, Dr William Fret di Ramsey Medical Center, Minneapolis mengungkapkan bahwa hormon stress dapat dikeluarkan hanya melalui air mata dan dengan mengeluarkan air mata emosional akan membantu kita memproduksi hormon endorfin yang seringkali disebut sebagai “hormon kebahagiaan”. Seperti Riley, kita pun mempunyai pusat kendali emosi kita sendiri. Kita yang mengendalikannya dan kita jugalah yang akan menuai manfaatnya. Jika kita membiarkan Fear, Anger dan Disgust betah berlama-lama dalam pikiran pastinya itu akan mengacaukan hidup kita, namun sebaliknya milikilah emosi yang seimbang. Tak ada salahnya menangis jika kita ingin menangis, membiarkan kesedihan hinggap sebentar lalu memotivasi diri kita dengan serangkaian hal positif setelahnya. Melalui kesedihan kita dapat mengenali arti dari sebuah keluarga, cinta dan persahabatan dan melalui kesedihan jugalah kita mengerti bahwa kebahagiaan adalah hal berharga yang harus kita upayakan.

Be Positive · Home · Thoughts

Killing Field : Perenungan Kembali Arti Sebuah Tragedi

Panasnya kota Phnom Penh, Kamboja tak memudarkan semangat kami untuk berkeliling  menggunakan transportasi utama di kota ini yaitu tuk-tuk. Sama seperti Siem Reap, kota sebelumnya yang kami kunjungi , mereka menawarkan 10 USD per orang untuk perjalanan menggunakan tuk-tuk seharian. Perjalanan menuju ladang pembantaian di Choeung Ek kurang lebih memakan waktu 40 menit, pemandangan disepanjang jalan begitu khas, anak-anak sekolah riuh memadati pinggiran jalan yang gersang dan masih terlihat orang asli Kamboja yang bersepeda sambil menggunakan caping sebagai pelindung kepalanya dari terik matahari.

“Keceriaan yang menghangatkan hati”

Sesampainya di Choeung Ek, kami disambut oleh seorang pria yang bergegas mengarahkan kami ke loket pembayaran. Sebelum tour keliling tempat ini dimulai, kami disuguhi dengan sebuah audio guide dan headset yang akan menemani kami dari satu titik ke titik peristiwa lainnya. Perjalanan kami mengenang tragedi berdarah ini pun dimulai, alunan musik dan narasi yang tersetel di rekaman ini seperti menyayat  hati. Tak ada candaan lagi yang terdengar diantara para wisatawan, semuanya tenggelam dalam perenungan.

Sejarah pembantaian ini bermula ketika Pol Pot, pemimpin dari rezim Komunis Khmer Merah menjanjikan kebebasan dari rezim  Lon Nol yang buruk dan korup pada tahun 1975. Hanya dalam beberapa hari saja setelah rezim Pol Pot memerintah, Phnom Penh menjadi kota mati. Kamboja berkabung ketika ada ribuan orang setiap harinya disiksa hingga mati. Dalam kurun waktu  4 tahun, rezim tersebut diperkirakan telah membantai sekitar 2 juta orang Kamboja terutama kaum intelektual dan para pedagang yang dikhawatirkan akan menghasut rakyat untuk perubahan. Selain Choeung Ek, terdapat juga ladang pembantaian lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Kamboja namun Choeung Ek adalah ladang pembantaian paling terkenal.

“Sisa tulang belulang dan pakaian dari para korban”
“Ribuan tengkorak korban pembantaian di dalam sebuah estalase”

Ribuan tengkorak manusia tersimpan rapi dalam estalase kaca. Kuburan masal hingga bekas pakaian para korban menjadi saksi bisu bahwa disinilah kekejaman manusia pernah bersarang. Keadilan seperti hal yang tidak pernah terdengar ataupun dituntutkan. Melalui wisata sejarah ini kami belajar tentang kesedihan masa lalu bahwa dahulu pernah ada hak-hak hidup manusia yang terenggut oleh kekejaman rezim sebuah pemerintahan. Semoga kelak kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi dan semoga pemimpin di masa depan dapat menjadi yang seperti kami harapkan. Ya, kami berharap.

Be Positive · Home · Thoughts

RAHASIA KEBAHAGIAAN

Your-Happiness

Seorang pemilik toko menyuruh anaknya pergi mencari rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di dunia. Anak itu melintasi padang pasir selama empat puluh hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, jauh tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

Namun ketika dia memasuki aula kastil itu, si anak muda bukannya menemukan orang bijak tersebut, melainkan kesibukan besar di dalamnya: para pedagang berlalu-lalang, orang-orang bercakap-cakap di sudut-sudut, ada orchestra kecil sedang memainkan musik lembut da nada meja yang penuh dengan piring-piring berisi makanan-makanan paling enak di belahan dunia tersebut. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam. Setelah itu barulah tiba gilirannya.

Si orang bijak mendengarkan dengan saksama saat anak muda itu menjelaskan maksud kedatangannya, namun dia mengatakan sedang tidak punya waktu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak muda itu melihat-lihat sekeliling istana, dan kembali kesini dua jam lagi.

“Sementara itu, aku punya tugas untukmu” kata si orang bijak. Diberikannya pada si anak muda sendok teh berisi dua tetes minyak. Sambil kau berjalan-jalan bawa sendok ini, tapi jangan sampai minyaknya tumpah.

Anak muda itu pun mulai berkeliling-keliling naik turun sekian banyak tangga istana, sambil matanya tertuju pada sendok yang dibawanya. Setelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat orang bijak itu berada.

“Nah” kata si orang bijak, “Apakah kau melihat tapestri-tapestri Persia yang tergantung di ruang makanku? Bagaimana dengan taman hasil karya ahli taman yang menghabiskan sepuluh tahun untuk menciptakannya? Apa kau juga melihat perkamen-perkamen indah di perpustakaanku?”

Anak muda itu merasa malu. Dia mengakui bahwa dia tidak sempat melihat apa-apa. Dia terlalu terfokus pada usaha menjaga minyak di sendok itu supaya tidak tumpah.

“Kalau begitu pergilah lagi berjalan-jalan dan nikmatlah keindahan-keindahan istanaku” kata si orang bijak. “Tak mungkin kau bisa mempercayai seseorang, kalau kau tidak mengenal rumahnya”

Merasa lega, anak muda itu mengambil sendoknya dan kembali menjelajahi istana tersebut. Kali ini, ia mengamati semua karya seni di langit-langit dan tembok-tembok. Dia menikmati taman-taman, gunung-gunung di sekelilingnya, keindahan Bungan-bunga, serta cita rasa yang terpancar dari segala sesuatu disana. Ketika kembali menghadap orang bijak itu, diceritakannya dengan mendetail segala pemandangan yang telah dilihatnya.

“Tapi dimana tetes-tetes minyak yang kupercayakan padamu itu? Tanya si orang bijak

Si anak muda itu memandang sendok di tangannya dan menyadari dua tetes minyak itu sudah tidak ada.

“Nah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan untukmu,” kata orang paling bijak itu. “Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal yang menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu”

Dikutip dari buku Sang Alkemis, halaman 41-43